Inilah buku pertama di Indonesia tentang spiritualitas pemenangan pemilu. Jangan membeli apalagi membaca tuntas buku ini jika Anda belum membutuhkan kemenangan dalam Pemilu 2014. Tetapi jika kemenangan itu bersifat penting, segera dan mendesak untuk perubahan hidup Anda, maka seraplah ajaran inti buku ini dengan kekuatan hati. Masuklah ke jalur baru pemenangan pemilu. Lakukan tindakan perubahan. Insya ALLAH keberkahan dan hidayah akan datang untuk kemenangan Anda. Yakin. Pasti. Karena ALLAH.

Sabtu, 30 Maret 2013

Mencari Jalan Baru Kemenangan Pemilu

Saat ini KPU (Komisi Pemilihan Umum) sedang bersiap-siap menerima pendaftaran calon legislatif (caleg) yang diajukan partai politik. Sampai dengan 22 April 2013, semua partai politik (parpol) peserta pemilu harus sudah menyerahkan daftar caleg ke KPU. Sejak KPU menetapkan DCS, kemudian menjadi DCT, maka proses pertarungan politik antar parpol dan antar caleg sudah dimulai. Berbeda dengan pemilu sebelumnya, dalam pemilu kali ini setiap caleg memiliki waktu yang cukup lama untuk bersosialisasi kepada masyarakat pemilih di daerah pemilihannya masing-masing.

Pertanyaan besar yang sering diajukan caleg adalah adakah cara efektif untuk menang pemilu alias terpilih sebagai anggota legislatif? Adakah teori, konsep, ajaran, strategi dan teknik bertarung yang lebih memberikan kepastian untuk menang pemilu? Adakah cara pemenangan yang hemat biaya, tidak menguras uang dapur, tidak bikin stres pikiran dan tidak bikin mental jadi ambruk? Adakah jalan kemenangan yang sekaligus bisa memperbaiki Indonesia, bukan malah merusaknya?

Dalam pikiran orang biasa, maka untuk menang pemilu pasti inilah jawabannya:
§  Anda harus punya tim sukses dulu untuk mendukung kerja pemenangan anda; atau
§  Anda harus punya dukungan dari tokoh-tokoh penting di daerah pemilihan anda; atau
§  Anda harus populer dulu untuk menang; atau
§  Anda harus punya uang dulu yang cukup banyak  untuk bisa menang.
§  Dan sebagainya.

Oke lah kita ikuti logika berpikir itu. Tapi sekarang coba jawab, jika semua persyaratan itu dimiliki apakah dijamin bahwa kemenangan itu pasti datang?  Biasanya akan dijawab begini: kemungkinan menang akan lebih besar, tapi tidak bisa dipastikan. Hasilnya tetap saja tidak pasti, hanya kemungkinan saja yang didapat. Nah lho?

Begitu pula sebaliknya, kalau anda tidak punya salah satu atau beberapa persyaratan itu, apa yang akan terjadi dengan anda? Apa keputusan anda? Maka, menurut logika juga, anda kemungkinan besar ciut nyalinya untuk menang jika tidak satupun syarat awal itu terpenuhi. Bahkan boleh jadi anda akan ambil keputusan untuk mundur dari medan perang. Dan ini memang jawaban khas yang berasal dari akal pikiran. 

Disadari atau tidak, selama ini para caleg mengeksploitasi akal pikiran bahkan hawa nafsunya untuk bisa memenangkan pertarungan. Seakan-akan kemenangan itu ditentukan oleh pikiran dan nafsunya. Mereka berlomba menyusun strategi pemenangan berdasarkan akal pikiran dan hawa nafsu ini. Mereka akan berbuat apa saja, yang penting bisa tampil sebagai pemenang. Yang tidak punya uang, akan mati-matian cari uang untuk biaya kampanye. Jika perlu jual asset atau hutang ke sana ke mari. Mereka yang punya uang akan gunakan uangnya untuk melakukan apa saja untuk bisa menang. Termasuk berani menempuh cara-cara haram, semisal money politics atau menyuap penyelenggara pemilu untuk memastikan perolehan suaranya aman.

Apa yang terjadi? Mereka yang kalah akan buntung, dan mereka yang menang menjadi tersesat. Kenapa buntung? Ya karena harta ludes, stres, depresi bahkan mungkin ada yang tiba-tiba jatuh miskin. Kenapa tersesat? Ya karena setelah terpilih mereka harus berpikir keras mengembalikan modal yang sudah ditanam saat kampanye. Maka jadilah mereka ini golongan yang menjadi parasit keuangan negara. Di mana kepentingan rakyat? Urusan rakyat belakangan, setelah urusan pribadi dan kelompok mereka terpenuhi. Seperti inilah kira-kira siklus umum yang terjadi menjelang dan setelah pemilu.

Apakah cara-cara semacam itu harus dipertahankan? Rasanya kok harus dihentikan ya. Tapi, bagaimana jalannya? Jalan lama untuk pemenangan pemilu tidak lagi memadai. Ideologi, paradigma, paham, ajaran, strategi, teknik, program dan kegiatan yang dipakai selama ini dalam proses pemenangan pemilu yang ditempuh oleh hampir semua partai politik dan calon legislatif (caleg), harus dinyatakan usang, ketinggalan jaman dan berbahaya. Mengapa? Karena out put yang dihasilkan sangat mengerikan. Rakyat dibentuk jadi bodoh, materialistis, pragmatis, oportunis dan premanistik. Hal yang sama terjadi pada elit pemimpin yang terpilih melalui pemlu. Mereka tidak kalah materialistik, sangat pragmatis, preman anggaran, pemburu proyek. Semuanya bertolak belakang dengan cita-cita negara dan ajaran agama.

Diperlukan jalan baru untuk pemenangan pemilu, jalan terbaik yang bisa  memastikan seseorang menjadi anggota legislatif. Adakah jalan itu? Pasti ada. Inspirasinya harus digali dari sumber moral dan pedoman akhlak yang tertinggi, yaitu agama. Tidak ada sumber kemenangan yang terbaik, kecuali agama. Agama bisa memberikan jalan keselamatan dan kebahagiaan dalam kehidupan sesudah mati. Berarti agama juga bisa memberikan jalan yang sama dalam kehidupan dunia. Apalagi cuma sekedar kemenangan pemilu, pasti ada jalannya. Tidak mungkin agama tidak menyediakan ajaran, konsep bahkan strategi dan teknik untuk seseorang bisa terpilih sebagai anggota legislatif. Untuk urusan yang besar saja agama memiliki panduannya, apalagi urusan “sekecil” pemilu pasti ada panduannya juga. Yakin. Pasti.

Masalahnya, saat ini belum ada gagasan-gagasan yang kuat, orisinil dan meyakinkan yang sumber ajarannya berasal dari agama. Ajaran, strategi, teknik dan kegiatan pemenangan pemilu umumnya digali dari sumber pengetahuan umum. Dari ilmu pemasaran dan komunikasi politik, menghasilkan pemasaran politik, cara memasarkan seseorang dalam persaingan politik. Muncul iklan politik, promosi kandidat, debat kandidat, pencitraan simbolik, juga teknik pembentukan opini dan persepsi pemilih. Dari ilmu penelitian, muncul polling, quick count, survey elektabilitas dan riset pemetaan suara. Dari ilmu ekonomi dan perdagangan, muncul hukum transaksi suara. Bahwa memperoleh suara itu tidak gratis, ada harga yang harus dibayar oleh seorang caleg atau partai politik. Makanya, bertarung dalam pemilu itu mahal biayanya. Dari ilmu matematika, muncul hitung-hitungan perolehan suara minimal untuk mendapat jatah 1 kursi, 2 kursi, 3 kursi, dan seterusnya. Masing-masing pengetahuan ini menyumbangkan pandangannya untuk  penyelenggaraan pemilu, untuk pemenangan pemilu. Manakah sumbangan agama untuk soal ini?

Inilah tantangan bagi setiap orang untuk menemukan jalan baru kemenangan berdasarkan sumber keagamaan. Pemilu 2014 adalah momentum perubahan. Perubahan terpenting adalah perubahan akhlak dan moral para pemimpin, maka semua akan berubah  Akhlak dan moral adalah soal keagamaan, bukan soal pengetahuan umum. Apa sumbangan agama tentang ajaran, metodologi dan kegiatan pemenangan pemilu? Inilah yang harus dijawab bersama-sama.